Miss pregerine’s home for peculiar children (review)

Halo bung dan sis, lama ga posting review lagi. Anyway, sedikit intermezzo, beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah postingan gambar yang isinya adalah quotes. 

“Jika salah, perbaiki. Jika gagal, coba lagi. Tapi jika kamu menyerah, semuanya selesai.” Sedikit kalimat motivasi yang mudah-mudahan bisa membangkitkan semangat bung dan sis dalam menghadapi segala rintangan dalam kehidupan ya.. aamiin..

Oke, kembali soal review. Di tanggal 28 september ini saya mendapatkan undangan nonton bareng film Miss Pregerine’s Home for Peculiar Children (berhubung judulnya yang cukup panjang, saya singkat MPHPC ya). Film ini adalah adaptasi dari novel New York’s Best Seller Karya Ransom Riggs dengan judul yang sama, berhubung saya bukan pecinta novel dan saya juga gak jago analisis cerita novel saya gak akan banyak bahas tentang novelnya ataupun membandingkan antara versi film dan versi novelnya. Sepengetahuan saya, novel ini memang perpaduan antara cerita dan juga fotografi. Bagi Bung dan Sis yang pecinta novel maupun jago analisis cerita novel pasti tau tentang novel ini, si penulis novel awalnya hanya menginginkan buku berisi foto-foto koleksinya, namun ada sang editor yang menyarankan supaya foto-foto itu dipadukan dengan narasi. Enough, seperti yang saya tulis sebelumnya, saya ga jago analisis novel, tapi saya hanya ingin menyeritakan versi filmnya yang saya tonton.

MPHPC ini bercerita tentang seorang anak bernama Jacob atau Jake Portman (Asa Butterfield) yang ditinggal mati oleh kakeknya. Sang kakek sering menyeritakan banyak hal dan menggunakan foto sebagai bahannya dalam bercerita. Sang kakek yang bernama Abraham (Terrence Stamp) menyeritakan tentang panti asuhan yang dihuni oleh anak-anak aneh. Suatu saat kakeknya meninggal dengan keadaan matanya hilang, dan sebelum meninggal Abraham sempat mengatakan bahwa Jake harus menemui lingkarannya di 3 September 1943 dan saat itu Jake melihat sebuah monster yang dalam pikirannya monster itulah yang membunuh kakeknya. Jake cukup stress dengan kejadian tersebut, orang tua Jake pun membawa Jake pada seorang psikiater. Jake sering menyeritakan cerita-cerita kakeknya ke psikiater tersebut, dan psikiater tersebut menyarankan untuk mendatangi Wales yang menurutnya mungkin akan berpengaruh terhadap kebaikan Jake.

Saat menuju ke Wales, Jake melihat seekor burung yang mengikuti kapalnya, dan Jake yakin bahwa dia adalah Miss Pregerine yang merupakan Ymbrine, seorang Ymbrine bisa mengubah dirinya menjadi seekor burung.

Sampai di tempat yang dimaksud ternyata sedikit mengecewakan bagi Jake, karena rumah panti asuhan tersebut sudah hancur, yang menurut info sudah hancur akibat Perang Dunia. Namun, dia merasakan sesuatu yang aneh seperti diikuti dan diperhatikan banyak orang ketika ia mencoba masuk ke dalam puing-puing panti asuhan tersebut. Pada akhirnya ia menemukan Anak-Anak Aneh yang diceritakan oleh Kakeknya, Jake pun dengan sangat fasih mampu mengenali wajah dan nama anak-anak tersebut.

Sebenarnya masih banyak cerita menarik yang ada di film ini (menurut saya), tapi mendingan Bung dan Sis nonton atau baca saja bukunya ;D. Banyak yang mengira ini film horror, tapi sejak melihat trailer filmnya saya sudah tahu bahwa ini adalah film genre fantasi. Secara visual film ini cukup nyaman dipandang mata, dengan latar belakang tahun 40an yang menurut saya klasik tapi mahal membuat saya merasa film ini cukup asyik sebagai referensi hiburan buat Bung dan Sis. Meskipun secara visual Effect nya kurang terasa ketika Bung dan Sis menonton film ini menggunakan teknologi 3D. Jadi tanpa efek 3D pun sebenarnya film ini sudah nyaman ditonton, apalagi jikalau secara 3D lebih terasa, pasti akan jauh lebih nyaman.

Ohiya, bagi Bung dan Sis yang ingin baca bukunya sudah ada versi bahasa Indonesianya kok di Gramedia dengan harga Rp122.000 (update September 2016). Oke Bung dan Sis, sekian dulu cerita saya, lain waktu saya bagi lagi pengalaman saya menonton film-film seru dan bagus lainnya. Ingat Bung dan Sis, blog ini hanyalah sebuah tulisan pengalaman saya menonton film-film atau pengalaman yang lain. I’m not an expert actually dan bukan jago analisis, jadi semoga bisa ada manfaatnya buat Bung dan Sis ya!

Leave a Reply

%d bloggers like this: