Nyi Misni dalam Perempuan Tanah Jahanam

Perempuan Tanah Jahanam Emang Bagus?

Joko Anwar (Jokan) sedang banyak diperbincangkan para penikmat film. Setelah sukses menggarap Film Pengabdi Setan, dan film superhero pertama Gundala, Jokan kembali merilis Film Perempuan Tanah Jahanam. Gaung di media sosial begitu luar biasa, tapi apakah layak jadi pilihan?

Tahun 2017 Joko Anwar sukses membuat ulang Pengabdi Setan, yang pernah rilis di tahun 1982. Sebenarnya, Jokan sendiri sudah dikenal sejak lama sebagai sutradara. Selain sebagai sutradara, Jokan juga menulis beberapa skenario film yang tidak disutradarainya.

BACA JUGA: Fakta Menarik Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot

Kiprah Joko Anwar

Berdasarkan catatan dari Wikipedia, ada beberapa judul film yang skenarionya ia tulis. Sebut saja Arisan, Jakarta Undercover, Quickie Express, Fiksi, Stip & Pensil, Orang Kaya Baru, dan yang terbaru Ratu Ilmu Hitam.

Saya sendiri justru mengenal karya Jokan sejak Modus Anomali (hehe maklum, dulu belum mengamati nama-nama sutradara). Modus Anomali sempat meraih penghargaan di Bucheon Award dalam ajang Network of Asian Fantastic Films (NAFF).

Lalu heboh dengan Pengabdi Setan yang tembus lebih dari dua juta penonton. Ini merupakan pencapaian tersendiri bagi film horror di Indonesia.

Perempuan Tanah Jahanam - bungrizki.com
source: IG @jokoanwar

Mengikuti sukses Pengabdi Setan, Jokan kembali dengan Film Horror Thriller Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) yang rilis 17 Oktober 2019. Promo film ini gencar sekali di media sosial. Informasi terkini ketika tulisan ini dibuat, dalam 9 hari penayangan film ini sudah tembus satu juta penonton.

Sinopsis Perempuan Tanah Jahanam

Maya (Tara Basro) adalah seorang petugas loket tol yang bersahabat dengan Dini (Marissa Anita). Maya terpikir untuk mencari tau asal usul keluarganya di desa.

Bersama sahabatnya, Ia pergi ke sebuah Desa bernama Harjosari yang disebut sebagai tempat kelahiran Maya.

Tak disangka, penduduk desa tersebut ternyata sudah lama menunggu hadirnya Maya untuk menghentikan kutukan yang terjadi di desa.

Kutukan tersebut merupakan kutukan yang terjadi sejak lama, dimana setiap bayi yang lahir keadaannya sangat mengerikan. Bayi di desa tersebut lahir tanpa memiliki kulit. Oleh Ki Saptadi bayi-bayi yang lahir tanpa kulit itu dibunuh, agar sang bayi tidak sengsara hidupnya.

Maya dahulu bernama Rahayu menjadi incaran penduduk karena diceritakan bahwa ia dulu juga merupakan bayi yang lahir tanpa kulit. Namun, Ki Donowongso (Ayah Maya) melakukan ritual ilmu hitam membuat perjanjian dengan iblis. Ki Donowongso membunuh 3 anak perempuan dan mengulitinya serta menjadikan kulit-kulit mereka untuk wayang.

Fakta Sebenarnya dalam Cerita Film

Singkat cerita, diketahui bahwa Ayah Maya bukanlah Ki Donowongso, namun Ki Saptadi (Ario Bayu). Ibu Maya (Nyi Shinta), ternyata selingkuh dan hamil dari hasil hubungannya dengan Ki Saptadi. Ibu dari Ki Saptadi, Nyi Misni (Christine Hakim), mengetahui hal ini dan melakukan ritual agar Ki Saptadi melupakan semuanya, dan membuat bayi dalam kandungan Nyi Shinta menjadi cacat.

Disinilah kutukan itu dimulai. Sejak saat itu bayi-bayi lahir tanpa kulit. Penduduk desa percaya bahwa jika ingin menghilangkan kutukan itu, maka bayi pertama yang lahir tanpa kulit (Rahayu atau Maya) harus dikuliti dan dijadikan wayang.

Inilah mengapa Maya diincar para penduduk desa. Dini, sahabat Maya sebelumnya mengaku bahwa dirinya adalah Rahayu, dan akhirnya ditangkap penduduk kemudian dibunuh dan dikuliti.

Maya mencari-cari sahabatnya, yang akhirnya bertemu dan diselamatkan oleh Ratih (Asmara Abigail). Ratih membantu Maya bersembunyi dari incaran warga. Ratih percaya bahwa dengan membunuh Maya, kutukan tidak berarti akan hilang.

Ketika dicari warga, disinilah Maya dirasuki 3 anak perempuan yang dibunuh Ki Donowongso dan meminta Maya menguburkan kulit mereka bersama dengan tulang belulangnya.

Saat Maya tertangkap dan akan dibunuh serta dikuliti, Maya menceritakan semuanya. Ketika itu pula, Ratih membawa bayi yang baru lahir dan mengatakan bahwa bayinya sehat. Mengetahui hal itu Ki Saptadi geram kepada Ibunya (Nyi Misni) kemudian menggorok lehernya, diikuti Nyi Misni.

Maya berhasil kabur dan pergi dari Desa Harjosari.

Akting dan Visualisasi Memukau?

Saya akui, visualisasi dari film ini cukup baik. Adegan ketika menggorok leher, terlihat seperti nyata. Ditambah dengan bayi lahir tanpa kulit yang dibuat seolah-olah itu nyata.

Akting dari Tara Basro pun terlihat natural. Begitupula akting Christine Hakim, yang baru pertama kali bermain film bergenre horror.

Christine Hakim seperti memberikan ruh ke dalam karakter Nyi Misni. Memang aktris kawakan satu ini tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam beradegan.

Satu karakter yang bagi Saya kurang natural. Karakter Dini, di sini Marissa terlihat seperti sedang akting, sehingga bagi Saya tidak natural.

Kekuatan Cerita

Kita mengenal di Indonesia memang masih banyak ritual ilmu hitam, yang Saya sendiri belum melihat sendiri kenyataannya.

Kekuatan cerita di dalam film ini sangat berhubungan dengan budaya kita. Dimana ada ritual yang dilakukan untuk membuat orang lain sengsara, dengan tujuan yang berbeda-beda.

Tidak Sesuai Ekspektasi

Ini review jujur Saya. Sepanjang nonton film ini Saya merasa seperti punya pengalaman baru menonton film horror Indonesia tanpa banyak adegan jumpscare.

Namun, entah kenapa di akhir film, Saya merasa kurang puas. Seolah-olah ketika selesai keluar dari bioskop “ohhh ternyata gini”.

Ada beberapa hal yang membuat Saya kurang puas. Pertama, di poster nampak Asmara Abigail juga seperti digantung. Dan beberapa trailer, ada dialog “Kerasa Gak?”.

Ekspektasi Saya, Asmara (berperan sebagai Ratih) adalah karakter antagonis, namun ternyata tidak. Tapi, saya selalu kagum dengan Asmara yang total dalam memainkan karakter dalam film-filmnya. Saya masih teringat saat ia berperan sebagai villain di Gundala. Sangat kuat sekali karakternya.

Kedua, karena Saya sudah menonton Modus Anomali, yang juga kurang lebih visualisasinya yang terlihat nyata, sehingga menonton Perempuan Tanah Jahanam ini seperti sudah pernah melihatnya, jadi ada yang kurang greget.

Kesimpulan

Meskipun Saya masih merasa kurang puas, tapi film ini Saya rekomendasikan untuk bisa jadi pilihan tontonan.

Terutama bagi pencinta film Indonesia yang bosan dengan cerita yang itu-itu saja (kalo drama cinta, ya horror yang ada pocongnya).

Apresiasi tinggi juga buat Jokan yang selalu berhasil bikin penasaran, karya apalagi selanjutnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: